Problem based learning (PPM)

USULAN PENELITIAN

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING

(PTK Pembelajaran Matematika Bagi Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 2 Polanharjo Tahun 2011)

 

  1. A.    PENDAHULUAN
    1. 1.      Latar Belakang Penelitian

Matematika menjadi sangat penting seiring dengan perkembang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju. Sebagai salah satu ilmu dasar yang memiliki nilai esensial yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam pembelajaran matematika yang berkualitas tidak lepas dari peran peserta didik. Guru dituntut mampu menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran studi matematika.

Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dengan keberhasilan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat keaktifan belajar siswa dalam kelas, pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar matematika. Semakin tinggi keaktifan, pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar matematika, semakin tinggi pula tingkat keberhasilan dalam proses pembelajaran matematika. Oleh karena itu keaktifan dalam proses belajar akan mempengaruhi hasil belajar siswa itu sendiri.

Sebagian besar siswa menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit, menakutkan dan momok untuk mereka. Hal ini dapat kita lihat dari hasil belajar siswa yang kurang memuaskan dibandingkan dengan pelajaran yang lainnya. Masalah lainnya yang timbul adalah pada saat proses pembelajaran siswa enggan untuk bertanya apabila menemui kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan dimana siswa pasif.

Penggunaan model pembelajaran yang monoton masih dipakai guru–guru (pendidik) sampai sekarang. Penggunaan model pembelajarn yang monoto membuat siswa jenuh dan akan berdampak pada keaktifan siswa dan hasil belajar juga ikut turun. Sehingga seorang guru harus dapat menerapkan berbagai model pembelajaran yang bervariasi, yang dapat mempengaruhi cara belajar siswa yang pasif menjadi aktif dan membuat siswa tertarik bahkan tertantang untuk mempelajari materi.

Konsep dalam matematika akan mudah dipahami dan diingat oleh siswa apabila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah-langkah yang tepat, jelas dan menarik sehingga dapat merangsang perkembangan otak siswa supaya dapat aktif dalam proses pembelajaran matematika serta dapat meingkatkan hasil belajar matematika. Dalam hal ini objek penelitian ditujukan kepada siswa yang memiliki kemampuan kurang dalam belajar matematika serta kurangnya keaktifan dalam proses pembelajaran.

Pengamatan siswa SMP N 2 Polanharjo kelas 1 diperoleh bahwa rendahnya keaktifan siswa dan hasil belajar matematika di tempat itu. Faktor-faktor yang mempengarui rendahnya keaktifan belajar matematika siswa kelas 1 SMP N 2 Polanharjo adalah 1). Pembelajaran yang hanya berpusat pada guru sehingga siswa menjadi pasif 2). Guru kurang kreatif dalam menyampaikan materi yang disampaikan. 3). Guru cenderung menguasai kelas sehingga siswa enggan untuk bertanya dan kurang leluasa untuk menyampaikan ide – idenya 4). Siswa takut  bertanya kepada guru apabila belum memahami materi 5). Siswa cenderng malas dalam menghadapi soal – soal yang menggunakan cara berpikir yang rumit.

Untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka guru perlu menerapkan model pembelajaran yang sesuai atau tepat sehingga dapat mengatasi permasalahan dalam meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar matematika secara optimal. Dan salah satu model pembelajaran yang sesuai tepat untuk diterapkan dalam permasalahan masalah ini adalah Problem Based Learnig (PBL). Dengan metode tersebut diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa sehingga hasil belajar matematika juga meningkat.

Melalui Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa yang signifikan. Guru matematika sebagai mitra peneliti sangat mendukung dalam upaya pencapaian kondisi tersebut. Melalui pembelajaran dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) diharapkan lebih efektif karena siswa akan belajar lebih aktif dalam berfikir  dan mendapatkan hasil belajar yang optimal.

 

  1. 2.      Rumusan Masalah

Bardasakan uraiaan latar belakang masalah di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Adakah peningkatan keaktifan siswa dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning  untuk siswa kelas 1 SMP N 2 Polanharjo tahun 2011?
  2. Adakah peningkatan hasil belajar matematika dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning untuk siswa kelas 1 SMP N 2 Polanharjo tahun 2011?

 

  1. 3.      Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini secara umum adalah untuk menguji dan menganalisis adakah peningkatan keaktifan dan hasil belajar matematika dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning.

Penelitian ini secara khusus memiliki tujuan belajar sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui peningkatan keaktifan siswa dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning untuk siswa kelas 1 SMP N 2 Polanharjo tahun 2011.
  2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning untuk siswa kelas 1 SMP N 2 Polanharjo tahun 2011.

 

  1. 4.      Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan pada pembelajaran matematika utamanya pada peningkatan keaktifan dan hasil belajar matematika dengan menggunakan pendekatan Problem Based  Learning.

  1. Manfaat Praktis

Pada tataran  praktis, penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru matematika dan  siswa. Bagi guru, dapat memanfaatkan pendekatan Problem Based Learning sehingga keaktifan dan hasil belajar matematika dapat meningkat. Bagi Siswa, dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika secara optimal.

 

  1. 5.      Definisi Istilah
    1. a.      Keaktifan Belajar Matematika

Keaktifan adalah kegiatan atau perilaku siswa yang terjadi selama proses pembelajaan. Belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian siswa dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningakatan kecakapan pengetahuan, sikap, pemahaman, keterampilan, daya fakir dan kemampuan lainnya.

Jadi keaktifan belajar matematika adalah suatu kegiatan selama proses pembelajaran dimana siswadapt mengalami peruahan tingkah laku yang tampak dari peningkatam kualitas seperti peningkatan kemampuan bertanya, menyelesaikan permasalahan, pengetahuan dan kemapuan yang lainnya.

 

  1. b.      Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. Hasil belajar siswa

  1. c.       Pendekatan Problem Based Learning

Problem based learning (PBL) adalag suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah sebagai stimulus yang mendorong siswa menggunakan pengetahuannya untuk merumuskan sebuah hipotesis, kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student-centered (berpusat pada siswa) melalui diskusi dalam sebuah kelompok kecil untuk mendapatkan solusi masalah yang diberikan. Dengan demikian masalah utama tersebut dapat menggali segenap potensi siswa untuk dapat mengarahkan kemampuannya dengan memanfaatkan sumber daya belajar yang ada guna menyelesaikan masalah. Rancangan masalah harus berasal dari permasalahan dilematis dan kompleks yang lazim dialami mereka di dunia nyata. Sehingga akan memotivasi para siswa untuk meneliti dan menemukan solusi terbaik.

 

  1. B.   LANDASAN TEORI
    1. 1.      Kajian Teori
    2. a.      Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika

1)      Hakikat Matematika

Matematika merupakan salah satu bidang studi penting yang harus dipelajari di sekolah. Pemahaman setiap orang mengenai matematika berbeda-beda bergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing individu.

Menurut Johson dan Myldebust ( dalam Mulyano 2003 : 252) “ Matematika merupakan bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir”.

Sedangkan menurut Kline (dalam Mulyono 2003 : 252) “Matematika adalah bahasa simbolis dan ciri-ciri utamanya adalah penggunaan cara berfikir deduktif, tetapi yang juga tidak melupakan cara bernalar induktif ”.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan dalam bahasa simbolis yang fungsinya untuk memudahkan berfikir dengan cara deduktif tetapi tidak melupakan cara bernalar induktif.

2)      Hakikat Belajar

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Dengan belajar dapat mempengaruhi pola berfikir dan sikap individu tersebut. Moh. Surya (1997) belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Djamarah (2002 : 11) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya Tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap bahkan meliputi aspe pribadi atau individu.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapt ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah proses kegiatan atau aktifitas yang ilakukan oleh individu mengakibatkan perubahan dalam diri individu berkat pengalaman dan latihan. Hasil kegiatan adalah terjadinya perubahan tingkah laku, kecakapan dan berbagai sikap lainya.

3)      Konsep Keaktifan belajar

Rosseau (dalam Sadirman 2001 : 94) memberikan penjelasan bahwa dalam kegiatan belajar segala pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, penyelidikan sendiri, baik secara rohani maupun teknis. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang belajar harus aktif sendiri, tanpa adanya aktifitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi.

Menurut Paul D. Dierich dalam keaktifan belajar dapat diklasifikasikan dalam delapan kelompok, yaitu :

a)      Kegiatan-kegiatan visual

Membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran dan pengamati orang lain bermain atau bekerja

b)      Kegiatan-kegiatan lisan

Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, mengajukan suatu pertanyaan, memberi saran, wawancara, diskusi, dan interupsi.

c)      Kegiatan-kegiatan mendengarkan.

Mendengarkan penyajian bahan, percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.

d)     Kegiatan-kegiatan menulis

Menulis cerita, laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisikan angkete.

e)      Kegiatan-kegiatan menggambar

Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola.

f)       Kegiatan-kegiatan metrik

Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, menari dan berkebun.

g)      Kegiatan-kegiatan mental

Merenungkan, mengingatkan, memecahkan masalah, menganalisa faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.

h)      Kegiatan-kegiatan emosional

Minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimiliki. Siswa juga dapat berlatih untuk berfikir kritis dan dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat kita peroleh kesimpulan bahwa keaktifan adalah kegiatan belajar dengan pengamatan dan penyelidikan untuk  mengembangkan potensi belajar siswa (kognitif, afektif dan psikomotorik) sehingga timbul minat, gairah dan semangat untuk terlibat dalam proses belajar atau pembelajaran dan bahkan memeliki rasa keinginan belajar mandiri untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.

4)      Konsep Hasil Belajar

Menurut Nana Sudjana (2000:22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Hasil belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 3) merupakan hasil dari suatu tindakan belajar dan tindakan mengajar. Dari siswa guru, tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dan dari siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.

Moh. Uzer Usman (1993 : 9) hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari diri sendiri (internal) maupun dari luar diri sendiri.

a)      Faktor internal terdiri dari :

i)        Faktor jasmani

ii)      Faktor psikologi

iii)    Faktor non intelektual

iv)    Faktor kematangan fisik maupun psikis

b)      Faktor Eksternal terdiri dari  :

i)        Faktor sosial

ii)      Faktor budaya

iii)    Faktor lingkungan fisik

iv)    Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat kita peroleh kesimpulan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil dari proses pembelajaran yang menghasilkan pengalaman dan pengetahuan baru.

 

  1. b.      Pendekatan Problem Based Learning

1)      Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran menurut Daeng (Uno 2006 : 134-135) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran memilikki hakikat perencanaan atau perencanaan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.

 

2)      Konsep Pendekatan Problem based Learning

Problem based learning adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Suradijono 2004). Menurut Ann Lambros dalam bukunya Problem based learning in middle ang high school classrooms (2004 :1) “PBL is a teaching method based on the principle of using problems as the starting point for the acquistion of new knowledge”.

Ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah sebagaimana diungkapkan Nurhadi (2004) adalah :

a)      Pengajuan pertanyaan atau masalah

b)      Terintegrasi dengan disiplin ilmu lain

c)      Penyelidikan otentik

d)     Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya

Langkah – Langkah pendekatan problem based learning ( M. Taufiq Amir 2009 :24-25), yaitu :

a)      Mengklasifikasi istilah dan konsep yang belum jelas

b)      Merumuskan masalah

c)      Menganalisis masalah

d)     Menata Gagasan anda dan secara sistematis menganalisisnya

e)      Memformulasikan tujuan pembelajaran

f)       Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain ( di luar diskusi kelompok).

g)      Mensintesa (menghubungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.

Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai suatu model pembelajaran adalah: 1) Realistik dengan kehidupan siswa, 2) Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa, 3) Memupuk sifat inquiry siswa, 4)Retensi konsep menjadi kuat, dan 5) Memupuk kemampuan problem solving. Selain itu, kekurangannya adalah: 1) Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks, 2) Sulitnya mencari problem yang relevan, 3) Sering terjadi miss-konsepsi, dan 4) Memerlukan waktu yang cukup panjang

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks bagi siswa untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru.

  1. c.       Penerapan Pendekatan Poblem Based Learning pada Pembelajaran Matematika Materi Persamaan Linear Satu Variabel

Langkah-langkah pendekatan problem based learning pada materi Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV), yaitu:

1)      Siswa membentuk kelompok (4-5 orang)

2)      Siswa membahas konsep materi persamaan linear satu variabel

a)      Pengertian PLSV : persamaan dengan satu variable berpangkat satu.

b)      Bentuk Umum PLSV

ax +b = c

contoh :

x+3=9, 2x=10 dan  2x+3=9

c)      Penyelesaian PLSV

i.       Penyelesaian PLSV dipeoleh dengan cara kedua ruas ditambah atau dikurangi dengan bilangan yang sama.

Contoh :

x + 3 = 9

x + 3 – 3 = 9 – 3

x    = 6

ii.       Penyelesaian PLSV diperoleh dengan cara kedua ruas dikalikan atau dibagi

Contoh :

2x = 10

x = 5

iii.       Penyelesaian PLSV dengan gabungan dua cara diatas

Contoh :

2x + 3 = 9

2x + 3 – 3 = 9 – 3

2x       = 6

x  = 3

3)      Siswa bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberikan penyelesaian terhadap materi yang bekaitan.

4)      Siswa diberi permasalahan yang tertuang dalam LKS

5)      Pada kelompok kecil, siswa mendiskusikan masalah, dan mengungkapkan apa yang mereka ketahui dan apa yang diperlukan untuk diketahui

6)      Siswa melakukan penyelidikan individu maupun kelompok untuk mengetahui informasi yang belum lengkap

7)      Siswa melaporkan kembali ke kelompoknya setelah mempunyai informasi yang dipunyai kemudian kelompok menyampaikan hasil diskusi kerja kelompoknya.

 

  1. 2.      Kajian Pustaka

Kajian pustaka memuat uraian sistematika tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang akan mendukung konsep dan teori penelitian yang akan dilakukan sekarang. Hasil penelitian ini berkaitan dengan pendekatan problem based learning.

Penelitian yang dilakukan Siti Nurjanah (2009) diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan problem based learning berbasis komik dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

Sedangkan peneliatian Ernik Listiana (2007) diperoleh kesimpulan bahwa pembeklajaran dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa

 

 

  1. 3.      Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan diatas dapat disusun suatu kerangka berpikir untuk memperoleh jawaban sementara atas kesalahan yang timbul.Prosedur penelitian tindakan kelas merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan tindakan atau perbaikan dari perencanaan tindakan terdahulu.

Pada kondisi awal siswa kelas VII SMP Negeri 2 Polanharjo mempunyai keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika yang rendah. Hal ini dikarenakan guru kurang optimal dan kurang tetap dalam memilih pendekatan pembelajaran yang akan digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika.

Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar adalah problem based learning. Prosedur pendekatan problem based learning adalah 1) Mengklasifikasi istilah dan konsep yang belum jelas, 2) Merumuskan masalah, 3) Menganalisis masalah, 4) Menata Gagasan anda dan secara sistematis menganalisisnya, 5) Memformulasikan tujuan pembelajaran, 6) Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain ( di luar diskusi kelompok), 7) Mensintesa (menghubungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.

Kondisi akhir yang diharapkan dengan penggunaan pendekatan problem based learning dalam proses belajar mengajar adalah dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika, sehingga siswa akan memenuhi dan mencapai hasil belajar yang memuaskan.

Berdasarkan uraian diatas, kerangka berfikir penelitian ini dapat diilustrasikan pada gambar sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a)      Mengklasifikasi istilah dan konsep yang belum jelas

b)      Merumuskan masalah

c)      Menganalisis masalah

d)     Menata Gagasan anda dan secara sistematis menganalisisnya

e)      Memformulasikan tujuan pembelajaran

f)       Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain ( di luar diskusi kelompok).

g)      Mensintesa (menghubungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.

 

Kondisi Awal

Tindakan

  1. Rendahnya keaktifan siswa dalam belajar matematika
  2. Rendahnya hasil belajar matematika

Guru kurang optimal dan kurang tepat memilih stategi pembelajaran

Kondisi Akhir

  1. Meningkatnya keaktifan siswa dalam belajar matematika
  2. Meningkatnya hasil belajar matematika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan hasil penelitian yang relevan dan kerangka berfikir tersebut diatas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan “Melalui pendekatan problem based learning dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika untuk siswa kelas VII semester genap Smp Negeri 2 Polanharjo 2011”.

 

 

C.  METODE PENELITIAN

  1. 1.      Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Pada penelitian ini dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas VII dan peneliti dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.Penelitian ini memiliki ciri-ciri memperbaiki terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya atau berhentinya siklus-siklus tersebut.

Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan oleh peneliti. Pengamatan berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan. Kejadian-kejadian penting yang belum termuat dalam pedoman observasi ada pada catatan pembelajaran.

Refleksi dilaksanakan peneliti bersama guru. Kegiatan ini, berdiskusi untuk memberi makna, menerangkan dan menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan kesimpulan pada kegiatan refleksi suatu perencanaan untuk siklus berikutnya dibuat tindakan penelitian dipandang cukup.

  1. 2.      Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Polanharjo yang beralamat di Klaten. Peneliti mengadakan penelitian di tempat taersebut dengann pertimbangan karena di sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada awal semester ganjil tahun 2011 yang meliputi perencanaan penelitian, pelaksanaan, analisis data dan penyusunan laporan.

 

 

Tabel penelitian sebagai berikut :

            Waktu

Kegiatan

Juli Agustus September Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan                                
Pelaksanaan                                
Analisis data                                
Penyusunan

Laporan

                               

 

  1. 3.      Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti adalah guru matematika yang bertindak sebagai subjek yang memberikan tindakan. Seluruh siswa kelas VII B  di SMP Negeri 2 Polanharjo tahun ajaran 2011/2012  berjumlah 40 siswa yang terdiri dari siswa putra sebanyak 18 siswa dan siswa putri sebanyak 22 siswi sebagai subjek yang mnerima tindakan. Peneliti dibantu dengan mitra guru matematika sebagai observer.

  1. 4.      Data dan Sumber Data

Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang keaktifan dan hasil siswa belajar matematika, serta kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Data penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi :

  1. Informan atau narasumber, yaitu guru dan siswa.
  2. Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran matematika.
  3. Dokumen atau arsip yang antara lain berupa kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran dan buku penilaian.
  4. 5.      Teknik Pengumpulan Data
    1. Metode Pokok

1)      Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara teliti dan sistematis, kegiatan ini dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa dalam  proses belajar mengajar.

2)      Metode tes

Metode tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu dan kelompok ( Arikunto 2002:127).

  1. Metode Bantu

1)      Dokumentasi

Dokumentasi adalah Metode untuk mengetahui data dengan melihat arsip, buku atau catatan yang berhubungan dengan arah yang diteliti.

2)      Catatan Lapangan

Catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat dalam pengumpulan data. Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang muncul pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung yang belum terdapat dalam observasi.

 

  1. 6.      Teknik Pemeriksaan Validitas Data

Validitas isi instrumen merupakan ukuran yang menunjukkan tingkatan – tingkatan kevalidan suatu instrumen. Uji validitas yang akan digunakan pada penelitian ini adalah uji validitas isi.

Pengujian validitas isi instrumen untuk menjamin kemantapan dan kebenaran data yang telah digali, dikumpulkan, dicatat dalam kegiatan penelitian maka dipilih dan ditentukan cara–cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperoleh. Penelitian ini akan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2005: 330).

Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, di mana untuk pengecekan kembali derajat kepercayaan data dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya. Pengamat lainnya dalam hal ini adalah guru matematika dan peneliti.

 

  1. 7.      Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.

  1. Proses analisis data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas. Berdasarkan rangkuman yang dibuat, kemudian peneliti melaksnakan reduksi data kegiatan mencakup unsur-unsur sebagai berikut : 1) Memilh data atas dasar relevansi, 2) Menyusun data dalam satuan-satuan jenis, dan 3) Memfokuskan penyederhanaan dan mentransfer dari dat kasar ke catatan lapangan

  1. Penyajian data

Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga dapat menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan anatara variable, peneliti mengerti apa yang terjadi dan apa yang perlu ditindak lanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

  1. Verifikasi data

Verifikasi data atau penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian, analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak tindakan dilaksnakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadukan menjadi kesimpulan.

  1. 8.      Indikator Kinerja

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar matematika (kondisi awal/sebelum penelitian ada 35% siswa, setelah siklus I ada 48% siswa setelah siklus ke II ada 86% siswa yang aktif dan hasil belajar yang bagus).

 

  1. 9.      Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif yaitu penelitian yang bersifat praktis, kondisional dan kontekstual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajran sehari-hari. Kepala sekolah, guru matematika, dan peneliti dilibatkan sejak dialog awal sampai evaluasi. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penalaran siswa dalam belajar matematika serta memperoleh manfaat yang lebih baik. Adapun langkah-langkah tersebut antaralain :

  1. Perencanaan

Setelah peneliti melakukan pengenalan, penyatuan ide, dan berdiskusi membahas masalah serta upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika. Langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana tindakan yang melibatkan guru matematika sebagai mitra dalam peneliti dengan memadukan hasil pengamatan serta masukan persepsi guru terhadap siswa selama proses berlangsung. Langkah-langkah persiapan yang dilakukan untuk mengadakan tindakan terdiri dari :

  1. Mengidentifikasikan masalah dan penyebab-penyebabnya
  2. Identifikasi siswa
  3. Perencanaan solusi masalah
  4. Pelaksanaan tindakan

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana. Suatu tindakan yang diputuskan mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata. Oleh karenanya rencana tindakan harus bersifat sementara dan fleksibel serta siap dilakukan perubahan sesuai apa yang terjadi dalam proses pelaksanaan di lapangan sesuai usaha menuju perbaikan. Pelaksanaan tindakan ini dilakukan selama tiga minggu terbagi dalam tiga putaran.

  1. Observasi dan Evaluasi

Observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan yang berlangsung. Observasi itu harus bersifat terbuka pandangan dan pikiranya.

Menurut Rochiati Wiriaatmadja (2008: 105) ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan observasi yaitu:

1)        Memperhatikan fokus penelitian, meliputi kegiatan umum atau kegiatan khusus.

2)        Menentukan kriteria yang diobservasi, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran-ukuran apa yang akan digunakan dalam pengamatan.

Evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan, observasi dan refleksi penelitian pada setiap pelaksanaan. Evaluasi diarahkan pada penemuan bukti-bukti dari peningkatan pembelajaran matematika siswa.

  1. Analisis dan Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mengakaji apa yang telah terjadi dan yang tidak terjadi. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan penelitian tindakan kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan pada akhir pembelajarn matematika atau dengan dialog secara informal untuk menangani masalah yang muncul.

 

  1. D.   DAFTAR PUSTAKA

Mudjiono, Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Amir, Taufiq. 2006. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana.

Lambros, Ann. 2004. Problem-Based Learning in Middle and High School Classroom. California :Corwin Press

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar mengajar. Jakarta :  Rineka Cipta.

Sutama. 2010. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: Citra Mandiri Utama.

Widyastuti.  2010. http://blog.unsri.ac.id/widyastuti/pendidikan/pendekatan-pembelajaran-berbasis-masalah-problem-based-learning-dan-pendekatan-pembelajaran-berbasis-konteks-contextual-teaching-and learning/mrdetail /14376/. Diakses tanggal 6 mei 2011.

Elfatru, Nawawi. 2010. “Keaktifan Belajar”. http://nawawielfatru.blogspot.com/ 2010/07/keaktifan-belajar.html. Diakses tanggal 6 mei 2011.

Listiana, Ernik. 2007. ”Upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran metematika dengan menggunakan PBL (Problem Based Learning)”. Skripsi. Surakarta: UMS(Tidak dipublikasikan)

Nurjanah, Siti. 2007. “Implementasi pendekatan problem based learning berbasis komik pada materi bangun ruang”. Skripsi. Surakarta: UMS(Tidak Dipublikasikan)

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s